Wawancara & Analisis
Benny Handoko

Gay dan Salah Logika Menteri @tifsembiring

Mengapa Menkominfo tiba-tiba menulis tentang AIDS, dan lebih-lebih soal homoseksual?

Jum'at, 1 Oktober 2010, 15:01 WIB
Nezar Patria
Benny Handoko (dok. pribadi)

VIVAnews - Ada yang menarik dari akun twitter Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, yang di-posting Rabu malam, 29 September 2010. Di akun twitternya @tifsembiring menulis tweet serial pendek (enam tweet) mengenai AIDS dan homoseksual.

Mengapa Menteri Tifatul tiba-tiba menulis tentang AIDS, dan lebih-lebih soal homoseksual?

Saya menduga hal ini ada kaitannya dengan Q! Film Festival yang sedang berlangsung di Goethe Institut. Festival itu memutar film-film bertema LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Transexual, Queer). Kementerian Kominfo bahkan sempat mengeluarkan rilis pers (yang kontroversial) terkait acara tersebut.

Membaca tweet seri dari @tifsembiring, tentang AIDS dan seputar homoseksual itu, saya melihat adanya logical fallacy yang membuat saya tertarik membahasnya.

Mari kita simak tweet @tifsembiring itu:

“Cegahlah diri Anda dan keluarga dari penularan virus HIV/AIDS. Angka-angka penderita dan penularannya selalu meningkat tajam setiap tahunnya.

MI 12/11/2009: “Penyebab HIV/AIDS dari Kaum Gay Meningkat Tajam”. Kata dokter: perilaku seks yang menyimpang adalah sebagai penular virus tersebut.

Kata Al-Qur’an: Allah SWT membalikkan bumi kaum Nabi Luth, pelaku homoseks, menghujani mereka dengan batu, dari tanah yang terbakar QS 11:81-82.

Penularan virus HIV/AIDS harus dicegah, juga penularan perilaku-perilaku yang potensial membawa virus-virus tersebut. Sampai kini obat AIDS belum ditemukan.

Kata Prof. Sujudi, mantan menteri kesehatan, agar mudah diingat, singkatannya adalah AIDS = Akibat Itunya Dipakai Sembarangan.

Kata seorang kyai, jika melihat kemungkaran diam saja, itu sama spt syaithanul akhlash, maksudnya syetan gagu. Maka cegahlah kemungkaran.”

Berikut adalah tanggapan saya terhadap enam tweet Tifatul di atas:

Soal himbauan pencegahan diri dan keluarga dari penularan virus HIV/AIDS, himbauan itu normal, OK, walaupun datar.

Soal judul berita "Penyebab HIV/AIDS dari Kaum Gay Meningkat Tajam." Headline itu bisa jadi benar, tapi kalimat berikutnya tidaklah tepat. Kalimat @tifsembiring: “Kata dokter: perilaku seks yang menyimpang adalah penular virus (AIDS)” misleading.

Mengapa?

Salah satu penyebab virus HIV menular bukanlah perilaku seks, baik hetero maupun homoseksual, tapi aktivitas seks yang tidak aman. Apakah seks hetero ataupun homoseksual, selama tak terjadi luka atau sentuh cairan, ya aman.

Jadi, tweet @tifsembiring yang menghubungkan kalimat “penyebab AIDS dari gay meningkat” dengan “perilaku gay sebagai penular virus” kelihatannya benar, tapi ngawur.

Sekali lagi, aktivitas seks tak aman (selain jarum suntik) merupakan salah satu sebab penularan HIV, bukan orientasi seksual. 

Soal tweet @tifsembiring yang mengutip Al Quran, susah saya berkomentar karena saya tidak mendalami Al Quran. Silakan dibahas oleh rekan lain yang lebih paham.

Nah tweet @tifsembiring yang jelas ngawur adalah ini: “…penularan perilaku yang potensial membawa virus tersebut.”

Apa yang dimaksud dengan "penularan perilaku"?

Tifatul tampaknya menyamakan penularan HIV dengan penularan perilaku homoseksual. Padahal, ini dua hal berbeda. Ditambah lagi, yang kedua belum ada buktinya. Tifatul tidak menyajikan fakta-fakta penelitian untuk  mendukung hipotesisnya, bahwa perilaku homoseksual ternyata bisa menular. Kalau tidak ada fakta penelitian yang mendukung argumen itu, maka maaf saja, itu sekadar omong kosong.

Tifatul juga mengutip joke Prof. Sujudi tentang kepanjangan AIDS. Konteksnya tidak dijelaskan. Audiensnya juga ketika itu siapa? Dijelaskan kemudian, Pak Sujudi ketika itu sedang melemparkan joke di depan sebuah acara yang dihadiri ibu-ibu. Joke seperti itu boleh-boleh saja. Namun, jika disisipkan di antara tweet yang menyatakan kaum homoseksual harus bertanggung jawab atas tersebarnya AIDS, menurut saya sangatlah tidak bijak.

Selain itu, Tifatul juga mengutip wejangan seorang kyai untuk tidak diam saja melihat kemungkaran. Di sini, apa yang dimaksud kemungkaran itu? Apakah menurut Tifatul, mereka yang sejak akil baliq memang berorientasi homoseksual adalah juga sebuah kemungkaran?

*Blogger, twitter ID: @benhan



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
bewok
28/01/2011
ihhhhh rumpi dech mbak benny ehh pak benny..... yg sederhana aja jd rumit gichuuuu.....ahhhhhhh
Balas   • Laporkan
insan
14/01/2011
tets..bikin asik aja lah,tiap insan di muka bumi ini punya jatah hidayahnya masing2 oleh Allah SWT.
Balas   • Laporkan
yomuska
12/01/2011
menurut saya ya kenapa juga kita saling menilai. dari pernyataan-pernyataan tersebut, dan kutipan terakhir. biarlah mereka dengan konsep pemikiran mereka, jadi tidak usah susah2 menilai orang lain !!! yang boleh menilai hanya SATU PENCIPTA SEMESTA ALAM
Balas   • Laporkan
chiwchiw | 12/02/2011 | Laporkan
siapa jg yg nilai?? amas sekola gak sich?bsa bedain mna yg nilai mna jg yg memberi nasehat dan peringatan??
alda
11/01/2011
kata dokter, seks lewat dubur menyimpang.
Balas   • Laporkan
jojon
11/01/2011
susah kalao bicara dengan orang sakit, karena ia ga bisa mbedain antara sakit dan normal. Segala sesuatu ada parameter sakit dan normal, orientasi seksual juga ada yang normal adan ada yang sakit. Ternyata banyak orang yang bangga jika sakit
Balas   • Laporkan
Amrozi Pahlawan Islam
10/01/2011
Hehe, yg kebakaran jenggot rata2 kaum pembela si mamad geblek. Wong ini masalah human rights kok dihubung2in ke agama. Emg sih, klo sebel ama orang tinggal di bom aja, gt aja kok repot, di surga masi banyak perawan :))))
Balas   • Laporkan
cowdox kungkang
04/01/2011
Benny yang malang, smoga cepet insaf kembali jadi lelaki perkasa, biar tdak jd rongsokan neraka
Balas   • Laporkan
cowdox kungkang
03/01/2011
tersinggung ni ye....... Tuhan mencipta maklhuk untuk hidup berpsangan dg lawan jenis utk kelangsungan hidup dan meneruskan keturunan, kalo benny sama bento kan masih sejenis jadi pergi keneraka aja ya jadi keraknya neraka jahanam oke selamat menikmati
Balas   • Laporkan
jono
03/01/2011
Gitu aja ko repot... kalo betyy, eh salah, heee.. Beny merasa benar dengan pemahaman beny silahkan aj.. tapi saya paham benar dengan pendapat yang di sampaikan pak Tifatul, gak ada masalah tu sama pendapat beliau, pendapaynya baik untuk mencegah HIV/AIDS
Balas   • Laporkan
gorth
01/01/2011
hmm,,yang nulis kayaknya cuma kritis pada kata2 pak menteri.. tapis sepertinya dia dingin aja samaadanya homoseksual,,jangan jangan?? semoga saja penulis tidak termasuk ... :)
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ